Pengamat Politik Beberkan Keunggulan Anies-AHY

TRIBUN NEWS – Pengamat politik dari Pusat Studi Sosial dan Politik (PUSPOL) FUD IAIN Gorontalo Hendra Yasin beberkan keunggulan Anies Baswedan-Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) yang punya peluang besar menangkan Pilpres 2024.

Anies-AHY punya kekuatan di Jawa Timur, Jawa Tengah dan DKI Jakarta. Susilo Bambang Yudhoyono, ayah AHY asal Pacitan Jawa Timur. Anies dari Yogyakarja wilayah Jawa Tengah yang menjadi Gubernur Jakarta.

Pasangan Anies-AHY juga gabungan dari politikus berlatar belakang sipil militer, ditambah keduanya memiliki elektabilitas tertinggi pada beberapa survei capres-cawapres.

Menurut Hendra Yasin, soal duet Anies-AHY ini sudah mencuat beberapa bulan yang lalu, jika ditanya soal kekuatan, tentu pasangan ini kuat untuk menuju Pilpres 2024.

Jika melihat elektoralnya, pemilihnya berbeda. Semisal AHY ceruk pemilihnya basis Jawa Timur karena SBY berasal dari Pacitan, terlebih untuk Anies yang juga dari Yogyakarta kemudian Gubernur DKI serta ceruk pemilihnya Jateng.

Sebenarnya pada satu sisi keduanya saling melengkapi. Semisal Anies yang sekarang berlatar belakang kepala daerah dan AHY adalah politisi yang pensiunan militer. Atau bisa dikata pasangan sipil-militer.

Dalam beberapa survei nasional yang dirilis, nama ini muncul. Namun dengan melihat pilpres yang masih cukup panjang tentu sangat berpengaruh juga tentang elektabilitas dan sangat berpotensi kekuatan secara elektoral untuk maju dalam Pilpres 2024.

Duet antara Anies-AHY ini menjadi satu pasangan yang sangat strategis bisa dilihat dari sisi latar belakang, dimana pasangan ini mengamankan wilayah Jawa senisalnya melalui Anies ia bisa mengamankan DKI kurang lebih Jateng DI dan AHY berasal dari Jawa Timur sehingga bisa mengamankan dari wilayah tersebut.

Apalagi jika bicara ceruk pemilih yang agak ke kanan semisalnya yang sering di kenal dengan politik identiras tentu pasangan ini sangat kuat contoh Islamnya di wilayah tersebut cukup kuat.

Kata Hendra Yasin yang juga alumni Universitas Gajah Mada itu, kekuatan tidak hanya lahir dari ceruk pemilih melainkan orang yang berada di belakang dari figur Anies ini.

Contohnya Anies ini kan lebih dekatnya dengan Jusuf Kalla dari sisi Partai Nasdem ada Surya Paloh, karena sering di afiliasikan antara Anies dan JK kurang lebih yang mendukung dan ini terus dikaitkan. Belum lagi di belakang nama besar AHY ada SBY.

Sehingga jika 3 nama besar ini menjadi patokan untuk mengamankan peta secara demografi tentu kurang lebih Anies bisa aman di Sumatera karena ada Surya Paloh, JK kemudian mengamankan wilayah Sulawesi dan SBY kurang lebih mengamankan wilayah Jawa.

Hadirnya Anies-AHY bisa saja akan terjadi koalisi antara Nasdem, PKS dan Demokrat dan politik ini sangat cair tentunya bisa dimungkinkan hadirnya koalisi tersebut.

“Semisal kan dengan hadirnya KIB (Koalisi Indonesia Bersatu) yang awalnya menguat bisa jadi akan bubar juga, artinya ini bisa jadi, namun ke depan kita tidak tau lagi-lagi politik itu sangat cair,” tuturnya.

Contohnya Anies ini kan lebih dekatnya dengan Jusuf Kalla dari sisi Partai Nasdem ada Surya Paloh, karena sering di afiliasikan antara Anies dan JK kurang lebih yang mendukung dan ini terus dikaitkan. Belum lagi di belakang nama besar AHY ada SBY.

Sehingga jika 3 nama besar ini menjadi patokan untuk mengamankan peta secara demografi tentu kurang lebih Anies bisa aman di Sumatera karena ada Surya Paloh, JK kemudian mengamankan wilayah Sulawesi dan SBY kurang lebih mengamankan wilayah Jawa.

Hadirnya Anies-AHY bisa saja akan terjadi koalisi antara Nasdem, PKS dan Demokrat dan politik ini sangat cair tentunya bisa dimungkinkan hadirnya koalisi tersebut.

“Semisal kan dengan hadirnya KIB (Koalisi Indonesia Bersatu) yang awalnya menguat bisa jadi akan bubar juga, artinya ini bisa jadi, namun ke depan kita tidak tau lagi-lagi politik itu sangat cair,” tuturnya.

Hanya saja perlu dilihat soal efek elektoralnya, semisal teori politik yang hal ini sudah berkembang di masyarakat terkait dengan efek ekor jas (coat-tail effect) adalah istilah umum yang merujuk kepada hasil yang diraih oleh suatu pihak dengan cara melibatkan tokoh penting atau tersohor, baik langsung maupun tidak langsung, melalui suatu perhelatan.

Tentu harapannya ialah siapa yang punya calon di tingkatan pusat semisalnya pilpres tentu memberikan efek terhadap partai. Dan itu sering dilakukan oleh beberapa partai dan yang paling getol ialah, PDIP, Gerindra dan Nasdem.

Bagi pengamat politik efek ekor jas ini hampir terus dilakukan para elit semisalnya Anies dekat dengan PKS atau bahkan Nasdem.

Siapa yang akan berikan efek elektoral tentu untuk dua partai itu di antaranya Nasdem dan PKS tinggal tergantung cara memainkan strategi untuk mengusung calon itu. Karena sejauh ini Anies tidak melekat dalam satu partai dan hal ini bisa saja berpengaruh pada PKS maupun Nasdem.

Dan untuk kehadiran AHY dalam bursa cawapres jika dipasangkan dengan Anies rentu ini memberika efek elektoral kepada Demokrat.

“Bagi saya Demokrat hari ini dua periode saat Jokowi terpilih, namun saat ini Demokrat kayak kehilangan momentum, namun dengan kehadiran AHY bagi saya ini menjadi momentum besar Demokrat,” ujarnya.

Maka tentu yang harus getol dalam dua pasangan ini ialah Demokrat. Dan ini akan memberi efek luar biasa bagi Demokrat apalagi partai ini pernah jadi pemenang oemiku di tahun 2009.

Tentu momentum ini juga cukup romantisme, di tahun 2009 Demokrat menang dengan mengusung SBY namun ini tidak lagi jadi pemenang pemilu, jadi ketika SBY redup dan tidak menjabat sebagai presiden, Demokrat redup. Namun dengan kehadiran AHY, tentu menjadi momentum untuk kemudian demokeat bisa naik lagi.

Kehadiran AHY pada cawapres nanti tentu memberikan magnet elektoral terhadap Demokrat atau dalam teori politiknya sebagai efek ekor jas. Bahwa kehadiran yang di atas kemudian mempengaruhi semisal suara partai.


Sumber: https://gorontalo.tribunnews.com/amp/2022/07/21/pengamat-politik-dari-iain-gorontalo-beberkan-keunggulan-anies-ahy